Kisah Putri Pasangan Tuna Netra yang Berprestasi

Posted on
Seorang gadis lahir dari kedua orangtua yang tak bisa melihat. Namun, dia tak pernah mengeluh dan justru bersemangat untuk meraih cita-cita. | Sumber Foto: Tribun Jogja/Ikrar Gilang

Mungkin, kamu sudah banyak mendengar soal penyandang disabilitas yang bangkit dari keterpurukan dan kini sanggup berkarya bahkan sukses di kancah internasional. Mereka patut diberi penghargaan dan diacungi jempol karena telah berjuang untuk menerobos segala keterbatasan.

Tapi, menjadi orang yang berada di dalam hidup mereka juga tak mudah. Banyak orang yang lelah memberi semangat dan membantu mereka penyandang disabilitas. Tapi, tidak dengan Retno Puji Astuti. Hidup dengan kedua orangtua yang tunanetra tak membuatnya lelah sedikit pun untuk berjuang.

Bukan cuma selalu semangat untuk mendampingi kedua orangtuanya, tapi juga tak menyerah mengejar cita-citanya sendiri. Dilansir dari berbagai sumber, Retno sukses membiayai hidup keluarganya, mendapat beasiswa saat kuliah, dan membuat bangga kedua orangtuanya dengan gelar cumlaude sebagai calonbidan.

Retno lulus dengan IPK 3,72. Mahasiswa jebolan Akademi Kebidanan Yogyakarta ini meraih kesuksesannya tak mudah. Untungnya, dia memegang tabungan beasiswa sejak SD kelas 5. Dia pun mengaku sudah hidup mandiri sejak SD.

Ilustrasi penyandang tunanetra | Sumber Foto: Liputan6.com/Switzy Sabandar

“Sejak kecil memang sudah nyari uang sendiri untuk biaya sekolah, dulu pas SD juga dapat uang beasiswa, itu saya tabung buat biaya kuliah,” katanya kepada salah satu media nasional.

Meski sudah lulus kuliah, dia masih ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga, dia bisa menjadi bidan. Namun sayang, dia tak memiliki dana untuk kuliah kembali.

Namun, Retno tak ingin merepotkan kedua orangtuanya. Pasalnya, sejak kecil dia dan kakaknya sudah terbiasa mendiri. Sementara ayah dan ibunya tak bisa melihat.

Ayah Retno tak bisa melihat sejak dia berusia 8 tahun. Sementara ibunya mengalami hal yang sama sejak lahir. Meskipun ayahnya bekerja sebagai tukang pijat, Retno tak pernah memandang mereka lebih rendah. Retno justru ingin bisa lebih membahagiakan mereka berdua dengan meraih cita-citanya, menjadi bidan.

Comments

comments